Teori Arsitektur: Responsive Environment

Dalam merancang sebuah kawasan urban, banyak pendekatan yang bisa digunakan. Salah satu pendekatan yang pernah dikemukakan oleh Ian Bentley adalah pendekatan “Responsive Environment”.

Menurutnya, untuk menciptakan lingkungan yang responsif, terdapat tujuh aspek yang perlu dipenuhi. Berikut uraian dari ketujuh aspek tersebut


Teori Arsitektur: Responsive Environment

teori arsitektur responsive environment.jpg

Vitruvius

1. Permeability

teori arsitektur responsive environment - permeability.jpgSumber gambar: Scottish Government

Designing the overall layout of routes and development blocks(Bentley. I. 1985: 11)

Hanya tempat yang dapat diakses oleh orang yang dapat menawarkan berbagai pilihan. Tingkat permeabilitas (aksesibilitas dan sirkulasi) kemudian menjadi penting untuk menciptakan kawasan yang responsif.

Perancang harus memutuskan berapa banyak sirkulasi yang harus ada, bagaimana mereka harus terhubungkan satu sama lain, kemana mereka harus pergi (mencapai fungsi-fungsi lain kawasan) dan  cara menetapkan batas-batas kasar untuk blok dan lahan yang dapat dikembangkan di dalam tapak secara keseluruhan.

Metode yang dapat dilakukan untuk menciptakan permabilitas:

  1. Menggunakan penghubung yang sudah ada;
  2. Merancang jalan / blok;
  3. Membagi jenis jalan dan merancang persimpangan; dan
  4. Memeriksa ukuran dari blok.

2. Variety

teori arsitektur responsive environment - variety.jpgSumber gambar: Rudi.net

Locating uses on the site(Bentley. I. 1985: 11)

Tempat yang mudah diakses tidak relevan kecuali mereka menawarkan banyak fungsi. Oleh karena itu Variety (terutama variasi dalam fungsi) adalah kunci kedua dalam menciptakan kawasan yang responsif

Tahap kedua dalam perancangan ini, adalah untuk memaksimalkan fungsi dari kawasan. Pertama kita perlu mengetahui tingkat permintaan untuk berbagai jenis fungsi baru di kawasan, dan menetapkan berapa luas fungsi yang diperlukan secara ekonomis dan fungsional untuk dimiliki kawasan. Maka volume bangunan yang sementara dapat ditetapkan sebagai kebutuhan spasial yang diinginkan dan diuji untuk melihat apakah fungsi yang diinginkan ini mungkin dapat dicampur dengan fungsi kini, dan desain yang akan dikembangkan lebih lanjut jika diperlukan.

Metode yang dapat dilakukan untuk menciptakan variasi:

  1. Membangun fungsi untuk kawasan;
  2. Konsentrasikan jalur pejalan kaki;
  3. Menghubungkan fungsi yang belum terhubung;
  4. Menghitung nilai proyek;
  5. Menghitung biaya proyek; dan
  6. Memeriksa kelayakan ekonomi

3. Legibility

teori arsitektur responsive environment - legibilitySumber gambar: Pinterest

Designing the massing of the buildings and the enclosure of public space(Bentley. I. 1985: 11)

Dalam prakteknya, fungsi-fungsi yang ditawarkan oleh suatu kawasan, sebagian bergantung pada seberapa mudah orang dapat mengerti tata letaknya. Hal ini dilakukan pada tahap ketiga dari desain yaitu menciptakan Legibility. Jaringan penghubung dan fungsi yang sudah ada sekarang diolah dalam bentuk tiga dimensi, sebagai elemen yang mampu memberi persepsi yang membawa orang-orang pada fungsi atau identitas tertentu. Termasuk menciptakan jalur sirkulasi dan persimpangan hingga menciptakan batas-batas ruang spasial yang berbeda. Pada tahap ini, oleh karena itu, perancang akan terlibat dalam membuat keputusan tentatif tentang volume bangunan yang menjadi batas-batas ruang publik

Metode yang dapat dilakukan untuk mencapai Legibility:

  1. Analisa Legibility.
  2. Memeriksa penilaian ini terhadap pandangan publik yang lebih luas, sesuai perizinan dan sumber daya yang ada.
  3. Mengkombinasikan elemen yang baru dengan elemen yang ada.
  4. Menentukan kawasan termasuk dalam wilayah dan konsekuensi dari rancangan.
  5. Merancang distrik dengan alur/jalan tematik yang kuat.
  6. Merancang batas-batas dari alur/jalan.
  7. Memperkuat keterbacaan simpul dalam skema, sesuai dengan kepentingan yang relatif.
  8. Memperkenalkan penanda jalan tambahan ke sistem jalan jika diperlukan.

4. Robustness

teori arsitektur responsive environment - robustness.jpgSumber gambar: ЦARЬCHITECT

Designing the spatial and constructional arrangement of individual(Bentley. I. 1985: 11)

Tempat yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan menawarkan pengguna mereka lebih banyak pilihan daripada tempat-tempat yang desain membatasi mereka untuk penggunaan tunggal tetap. Lingkungan yang memiliki pilihan fungsi-fungsi temporer ini kita sebut sebagai robustness. Dalam tahap ini kita telah mulai fokus pada bangunan individu dan tempat-tempat di luar ruangan. Tujuannya adalah untuk membuat organisasi ruang spasial dan konstruksi yang cocok untuk kegiatan-kegiatan yang kemungkinan ada pada masa depan  dalam jangka pendek dan panjang

Metode yang dapat dilakukan untuk mencapai Robustness:

  1. Pemilihan konfigurasi kuat untuk setiap bangunan hunian yang masuk dalam skema kawasan
  2. Pada bangunan lainnya, satukan semua elemen fungsi dalam perencanaan sesuai dengan batasan berikut:
    1. Memasukkan sebanyak mungkin fungsi yang mampu terakomodasi dalam suatu bangunan.
    2. Memastikan bahwa area lantai dasar berbatasan ruang luar publik yang memiliki fungsi publik yang aktif
    3. Membuka batasan-batasan pada ruang-ruang sisa.
  3. Menyesuaikan ukuran ruang dan detail untuk memaksimalkan pemanfaatan ruang temporal dalam skala kecil.
  4. Merancang ruang terbuka private untuk area hunian
  5. Merancang batas antara bangunan dan ruang publik untuk mendukung berbagai fungsi yang diperlukan
  6. Merancang semua ruang publik secara rinci, sebagai berikut:
    1. Jalur jalan sibuk
    2. Jalur jalan bersama
    3. Jalur pejalan kaki
  7. Menyesuaikan rancangan dengan situasi iklim secara mikro.

5. Visual Appropriateness

teori arsitektur responsive environment - visual apropriatenessSumber gambar: Seeing.Thinking.Drawing

Designing the external image(Bentley. I. 1985: 11)

Keputusan yang kami telah membuat menentukan penampilan umum dari skema. Selanjutnya kita harus fokus pada apa yang seharusnya terlihat seperti lebih terinci. Ini penting karena sangat mempengaruhi interpretasi orang menaruh di tempat-tempat apakah desainer ingin mereka atau tidak, orang menafsirkan tempat sebagai memiliki makna. Tempat memiliki kesesuaian visual bila makna ini membantu untuk membuat orang sadar akan pilihan yang ditawarkan oleh kualitas yang telah kita bahas.

6. Richness

teori arsitektur responsive environment - richness.jpgSumber gambar: pinterest

Developing the design for sensory choice (Bentley. I. 1985: 11)

Tindakan terkait penampilan yang sudah dilakukan sebenarnya masih memberikan ruang untuk manuver di tingkat yang paling rinci dari desain. Kita harus menciptakan ruang yang tersisa dengan cara yang meningkatkan pilihan pengalaman rasa yang padat dinikmati pengguna. Tingkat lanjut ini yang disebut richness.

Pada tahap ini, kita berhadapan dengan rincian terkecil dari proyek. kita harus menciptakan kekayaan rasa, baik secara visual dan non-visual, dan memilih bahan dan teknik konstruksi yang tepat untuk mencapainya.

7. Personalisation

teori arsitektur responsive environment - personalisation.jpgSumber gambar: Washington Post

Making the design encourage people to put their own mark on the places where they live and work (Bentley. I. 1985: 11)

Pada tahapan ini untuk mencapai kualitas yang mendukung respon dari lingkungan itu sendiri, diperlukan partisipasi dari masyarakat. Ini dimana orang bisa memberikan cap mereka sendiri di lingkungan mereka.


*merupakan rangkuman, terjemahan, serta intepretasi penulis dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s